Bupati Lampung Timur H. Satono, SH, SP
Sosok Bupati Lampung Timur H.
Satono, SH,. SP, diakui banyak kalangan di Provinsi Lampung-bahkan nasional-sebagai
tokoh istimewa. Melalui Talentanya yang kompleks baik selaku seniman,
budayawan, tokoh intelektual yang handal, maupun sebagai seorang dai
(pendakwah), lelaki kelahiran Pekalongan, 8 Juli 1953 ini berhasil memimpin
Lampung Timur, sehingga terjadi percepatan
pembangunan pada segala sektor.
Salah satu
indikator keberhasilannya adalah
terjadi peningkatan APBD yang sangat besar. Tahun 2006 saja misalnya, APBD Lamtim hanya Rp 409 Miliar
dan menempati urutan ke-7 dari 10 kabupaten/kota se-Lampung. Tahun 2007 APBD
Lamtim melonjak mencapai Rp. 730 Miliar
dan menempati urutan 3 di seluruh
Lampung. Yang paling spektakuler lagi, untuk tahun 2008 ini APBD Lamtim
merupakan yang terbesar se-Provinsi Lampung, nilainya mencapai Rp.853 Miliar.
Menurut H. Satono, peningkatan APBD
setiap tahunnya itu disertai pula
peningkatan dan percepatan pembanguan di semua sektor, baik pembanguan fisik
seperti jalan dan jembatan, maupun di sektor ekonomi, pemberdayaan masyarakat,
pendidikan, hingga di bidang sosial dan keagamaan .
Melalui
anggaran APBD yang mencapai Rp.800-an miliar lebih itu, H. Satono
mengungkapkan, 70% dari anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan infrastruktur
serta pelayanan publik di pedesaan, karena memang sekitar 80% masyarakat Lampung Timur tinggal di daerah
pedesaan dengan mata pencaharian sebagai petani. Hanya 30% saja yang digunkakan
untuk administrasi dan kesekretariatan kabupaten.
�Sebagai
pengelola anggaran daerah yang diberikan wewenang oleh UU Otonomi Daerah No.32/2004
tentang pokok-pokok pemerintahan daerah,
maka pembangunan yang kami utamakan adalah pembangunan daerah pedesaan,
70% diperuntukkan bagi pembangunan pedesaan, 30 % untuk operasional yang ada di
pemkab. Pembangunan itu meliputi fisik, mental spiritual, bantuan sosial baik
untuk lembaga agama�untuk iman dan takwa, yang pada gilirannya pembangunan
bidang spiritual betul terlaksana, sehingga pembangunan itu bisa terlihat
secara nyata hingga ke desa di seluruh Kabupaten Lamtim,� tegas H. Satono.
H.
Satono yakin, hanya melalui mekanisme
penggunaan anggaran seperti itulah Visinya selaku Kepala Daerah Kabupaten
Lampung Timur Periode 2005-2010 bisa tercapai, yakni terciptanya kehidupan
masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan dasar (Basic Need), memeiliki daya saing yang tinggi di bidang ekonomi, sosial, budaya, ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Taka
butuh waktu lama bagi mantan Sekdakab Lampung Timur ini membuktikan ikrarnya, hanya berselang dua setengah tahun
kepemimpinannya selaku Bupati Lampung Timur, pelbagai pencapaian (achievement) pun direngkuhnya. Pembangunan dan kemajuan yang
dicapai bisa dilhat secara visual nyata dibandingkan sebelum ia menjadi bupati.
Bukti nyata keseriusan Pemkab Lamtim membangun pedesaan
dari hal anggaran saja sudah terlihat jelas, melalui bantuan stimulant untuk
tiap-tiap desa adalah senilai Rp. 100�125` juta yang murni diperuntukkan pembanguan jalan di
setiap desa. Ini merupakan bantuan
tertinggi untuk kabupaten/kota se-Indonesia, hanya bisa disaingi Boyolali
(Jateng) di urutan dua, serta Kabupaten Bandung di posisi ke-3.
Tahun 2008 diluncurkan program Gerakan Membangung
Lampung Timur (Gema Melati) yang nilainya mencapai Rp.300 juta juga difokuskan untuk pembanguan jalan. Program
tersebut memberikan impac yang luas
bagi akses perekonomian pedesaan. Praktis bisa dikatakan sudah tidak ada lagi satu desa pun di Lampung Timur yang terisolir.
Seiring dengan itu pula, pembangunan
sektor pelayan publik juga menjadi prioritas utamanya baik ditingkat desa maupun kecamatan, mulai dari sekolah, puskesdes, hingga
puskesmas. Bahkan demi terciptanya keamanan dan kenyamanan masyarakat, Pemkab
Lamtim memberikan kontribusi yang cukup
memadai bagi pembangunan Polsek di 24 kecamatan se-Lampung Timur.
Pada sektor pertanian juga
mengalami kemajuan yang sangat
signifikan. Wajar saja, background pendidikan dan pengalaman
kerjanya di sektor pertanian selama lebih dari tiga dekade, membuat dia paham
betul bagaimana membenahi dan meningkatkan potensi pertanian Lampung Timur.
Dalam hal pangan, Lampung Timur dikenal sebagai
penyangga atau lumbung pangan di
Provinsi Lampung. Bahkan tiga produk pertanian Lampung Timur, yakni : Ubi kayu,
jagung dan kakao (coklat) tak hanya menjadi primadona, namun juga berhasil
menjadi komoditas eksport.
Satu lagi terobosan spektakuler baru
yang digagas H. Satono, mulai Januari 2009 mendatang masyarakat Lampung Timur
akan menikmati kado istimewa, yakni,: Pertama,
program bebas KTP/KK. Kedua, pembebasan biaya sekolah mulai tingkat SD hingga
SLTA. Ketiga, Subsidi benih unggul
padi dan jagung. Keempat, Tambahan insentif perangkat desa, BPD dan Kadus, para
guru, PPL Pertanian dan paramedis tertentu.
Menanggapi apa yang dicapainya itu,
dengan merendah ia menjawab bahwa sebagai
pemimpin sudah menjadi kewajibannya memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. "Memimpin
adalah mengayomi dan melayani setulus hati'', ungkap suami Hj. Rice Megawati
Satono ini dengan ramah.
Terlebih lagi menurutnya Al-Qur�an juga dengan jelas
memberikan tuntunan. Ia juga mengutif salah satu ayat dalam Al
Quran yang menyebutkan bahwa, barang siapa yang diserahi tugas untuk mengurusi
orang banyak dan melakukannya dengan baik, maka Allah juga akan memelihara
orang itu. Sebaliknya, jika dalam mengurusi orang banyak itu ia merusak atau
membawa orang-orang pada hal-hal jelek, maka dengan sendirinya pemimpin itu
akan menerima ganjarannya.
Kiprah di dunia Seni, Budaya dan Agama
H. Satono juga dikenal sebagai pemimpin yang peduli
terhadap kebudayaan. Bahkan diantara sedikit pejabat yang menggeluti dunia
seni, H. Satono tergolong serba bisa (far-excellent). Sebut saja, selain
sebagai Ki. Dalang, dia juga dikenal sebagai penulis lagu, penyanyi, music
arranger, hingga sebagai aktor
(sinetron dan film) yang potensial.
Bila ditelisik dari art
portfolio-nya, khususnya ranah pewayangan, jauh sebelum menjabat bupati
H. Satono telah menjadi Ki Dalang yang handal.. Sudah ratusan kali pagelaran
wayang kulit yang dipentaskannya. Semenjak menjabat Sekdakab Lampung Timur
hingga kini tiga tahun kepemimpinannya selaku bupati Lamtim, boleh dikatakan
hampir semua desa di Lampung Timur telah �nanggap� Ki Dalang H. Satono.
Methode H. Satono yang
menyambingi dan berkomunikasi dengan rakyatnya sembari ngedalang, dinilai
merupakan pendekatan (approach) yang
pas dengan culture masyarakt Lampung
Timur yang notabene mayoritas suku
jawa. Di satu sisi masyarakat terhibur
mendapat pertunjukan wayang gratis, maklum saja untuk nanggap Ki. Dalang butuh biaya jutaan, bahkan untuk kategori Ki.
Dalang kondang sekelas Ki. Dalang H. Satono bisa membutuhkan biaya puluhan
juta.
Sementara pada dimensi lainnya, melalui ngedalang mempermudah bagi H. Satono
menyampaikan kebijakan (policy)
maupun program kerjanya selaku bupati. Boleh dikatakan melalui ngedalang H. Satono bisa secara ajeg dan natural berkomunikasi dengan
rakyatnya. Di saat pagelaran wayang kulit-lah H. Satono lebih leluasa
berinteraksi dengan rakyatnya, karena masyarakatnya tidak perlu melewati aturan
protokoler yang ribet (ketat) untuk
berkomunikasi dengan bupatinya.
Itulah sebabnya beberapa program unggulan yang
berorientasi pada peningkatan dan upaya memenuhi
kebutuhan dasar (basic needs) bagi
seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Lampung Timur bisa selalu dipantaunya.
Penetrasi H. Satono di cakrawala pewayangan ini, tak
hanya terbatas di Lampung Timur semata. Atas dedikasinya yang tinggi itu, dia
dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia
(Pepadi) Provinsi Lampung. Pelbagai terobosan dan pembenahan telah dilakukannya
untuk menggairahkan dunia pewayangan di Lampung. Konsep awalnya adalah
bagaimana memperkenalkan pada generasi muda agar menganal dan memahami wayang kulit sebagai budaya adhi luhung Indonesia.
Dalam konteks ini,
beberapa pemikiran brilian H. Satono
menjadi pencerahan (enlightment) bagi banyak kalangan.
Beberapa saat lalu, saat Pelantikan Kepengurusan Pepadi Cabang Kota Metro, usulannya agar Pepadi Metro
mensinergikan programnya dengan blue print Kota Metro sebagai kota
Pendidikan. H. Satono menganjurkan agar
Pepadi Metro merancang program sosialisasi
wayang kulit ke sekolah-sekolah dengan format yang disesuaikan dengan karakter pelajar. Wacana yang digulirkan Satono kala itu mendapat sambutan
positif dari Wali Kota Metro, H. Lukman Hakim.
Yang terbaru, langkah spektakuler yang dilakukan Ki.
Dalang H. Satono adalah baru-baru ini meluncurkan �Wah-Yang Trendy�. Merupakan
pertunjukan wayang koloborasi wayang kulit dan wayang golek yang dimainkan satu
panggung oleh H. Satono. Boleh
dikatakan, Wah Yang Trendy merupakan terobosan pertama di dunia pewayangan
Indonesia. Atas prestasinya itu, banyak kalangan yang
menyatakan Ki. Dalang Asep H. Satono layak dianugerahi rekor MURI.
Tidak hanya wayang semata yang digeluti H. Satono. Masih
dalam ranah seni karawitan, H. Satono
membuat gebrakan lainnya,
meluncurkan album perdananya Album SAE. Album ini punya karakter tersendiri.
Setidaknya mengemban dua misi.
Pertama, menjadi media
promosi memperkenalkan Kabupaten Lampung Timur yang memiliki potensi, khsusnya
Way Kambas sebagai asset nasional. Kedua, Album SAE sekaligus
menjadi media memperkenalkan Wayang Kulit ke pelbagai kalangan,
khususnya generasi muda.
Sebagai catatan, Album SAE ini sukses menuai sukses.
Indikatornya jelas, tiga bulan pertama sejak grand launching Album SAE,
medio Agustus tahun lalu, Album yang
semua lagu merupakan ciptaan H. Satono sendiri itu, mapu menempati top ten lagu terpopuler di berbagai
radio seantero Lampung. Bahkan hingga kini, beberapa lagu unggulan dari Album
SAE ini seperti, Gajah Lampung, dan Nonton Wayang masih sering direquest para
pecinta lagu campur sari.
Istimewanya
lagi para penggiat, pencipta lagu, dan penyanyi campur sari nasional seperti
Dedi Kempot dan rekan-rekannya mendaulat H. Satono menjadi Ketua Paguyuban
Campur Sari Seluruh Indonesia
(Pancasindo). Pengukuhan dan pelantikkannya
sendiri dilakukan oleh Ketua DPR RI HR.
Agung Laksono di Sasono Langenbudhoyo Taman Mini Indonesia Indah (TMII),
Jakarta, akhr tahun lalu.
Tak
hanya sampai di situ, kapasitas H. Satono selaku tokoh budaya kembali melambung
saat dia menggagas lahirnya Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni Baca Al-Qur�an
(PMPSBQ) Provinsi Lampung sekitar agustus 2007 lalu. Tak sebatas sebagai founding father bagi PMPSBQ, dia pun
didaulat menjadi ketuanya.
Kelahiran
PMPSBQ Provinsi Lampung membuka cakrawala pemikiran bagi masyarakat, khususnya
para ulama, umaro, dan kaum cendikiawan. Pasalnya, degradasi moral yang kian lama mengikis dan menjalar serta
mengancam hampir semua generasi muda Lampung diyakini H. Satono adalah akibat
dari lemahnya pemahaman dan perhatian masyarakat, khususnya para orang tua
terhadap pendidikan Al-Qur�an bagi anak-anak mereka.
Hasil
Survey dari Kanwil Depag menjadi indikatornya. Research itu menemukan hampir 90% pelajar SLTA se-Provinsi
Lampung ternyata buta aksara Al-Quran. Penemuan ini menjadi ironi bagi kita
selaku wilayah yang mayoritas penduduknya muslim. �Bila kita tidak memulai
memperbaiki moral generasi muda kita, dimasa mendatang saya yakin generasi muda
Lampung rapuh moralnya, akibatnya tidak bisa
berkompetisi. Melalui PMPSBQ ini kita mulai memperbaiki moral dan
menyaipkan masa depan generasi penerus kita, tegas H. Satono.
Bagi H. Satono deklarasi PSPMBQ Provinsi Lampung tak
hanya seremoni saja. Programnya pun sangat jelas dan visible untuk diaplikasikan. Hanya saja perlu bantuan sepenuhnya
dari seluruh Pemkab/Pemkot se-Provinsi Lampung. Gayungpun bersambut,
Dikukuhkannya PMPSBQ di beberapa kabupatgen/kota se-Provinsi Lampung, yang
difasilitasi Pemkab/Pemkot setempat, menunjukkan program tersebut mendapat
apresiasi dan dukungan yang memadai.
Sebagai pilot project-nya, H. Satono mengusung
dan memperkenalkan program tersebut di Lampung Timur. Sejak tahun lalu, di
seluruh SD dimasukkan pelajaran Iqro� sebagai muatan lokal dalam kurikulim
ekstrakurikuler. Begitu pula siswa SMP diberikan pelajaran Tajwid. Nantinya
setelah di SLTA mereka memiliki acuan untuk memahami Al-Quran.
Dari Leadership Award, Tjindarboemi hingga Penghargaan dari SIWO PWI
Atas dedikasinya yang tinggi di
dunia seni, budaya dan agama ini, H. Satono dianugerahi penghargaan
Tjindarboemi, yang merupakan sebuah penghargaan tertinggi dari PWI Cabang
Lampung. Hal ini menandai untuk kesekian kalinya pula Bupati
Lampung Timur itu menerima penghargaan bergengsi.
PWI punya kriteria tersendiri
memilih H. Satono sebagai tokoh budaya yang layak menerima Tjindarboemi.
Pertimbangan PWI Cabang Lampung menganugerahi Penghargaan Tjindarboemi kepada
H. Satono, karena dinilai H. Satono selain dikenal sebagai Bupati Lamtim yang
sukses menghantarkan Lampung Timur terdepan dalam berbagai bidang pembangunan,
dia juga dikenal luas masyarakat Lampung
sebagai tokoh budaya terkemuka di Lampung.
Berbicara
soal penghargaan, tak hanya Tjindarboemi semata yang pernah direngkuh H.
Satono. Beberapa penghargaan lainnya menjadi catatan penting
yang tak bisa diabaikan dalam treck record lelaki yang hobby berkebun ini. Sebut saja Penghargaan Rakyat Lampung Award selaku
tokoh yang konsen di dunia seni.
Yang
paling prestesius bagi bupati
pertama yang terpilih melalui Pilkada secara langsung di Lampung Timur itu, adalah saat ia dianegerahi
Leadership Award 2006. Forum Leadership Award merupakan forum
bergengsi di bidang kepemimpinan di Indonesia dan saat itu dari 449
kabupaten/kota yang ada di Indonesia hanya 15 orang bupati/walikota yang
terpilih masuk nominasi Leadership Award.
Satono dinilai unggul karena memaparkan program
pengentasan kemiskinan. Dengan memberikan solusi bahwa permasalahan kemiskinan
akan dapat teratasi secara cepat apabila pemerintah pusat dan daerah memiliki
komiten yang sinergi untuk mengatasinya.
Point
utama yang melambungkan Satono unggul dari kandidat lainnya karena program
pembangaunan "Catur Tertip" yang diusungnya. Konsistensi pelaksaanaan Catur
Tertib ini diyakini mampu mengelaminir beberapa penyimpangan yang mungkin
terjadi dalam pelaksaan tugas.
Bahkan poin ke empat, yakni penegakan disiplin dan
kinerja aparatur dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi
sebaga upaya untuk memberikan pelayanan yang murah, mudah, dan cepat serta
berpihak pada kepentingan public.
Terpilihnya H. Satono memenangkan Leadership Award 2006 dipandang tepat,
mengingat kesuksesannya merintis sebagai pejabat karier yang dirintisnya mulai
dari golongan II (pengatur) hingga meraih jabatan tertinggi di PNS selakku
Sekdakab Lampung Timur, dengan pangkat IV/d (Pembina Utama Madya) sejak tahun
2000, hingga kemudian terpilih menjadi
Bupati Lampung Timur yang dilantik
pada tanggal 1 September 2006.
Selaku bupati Lampung Timur ia konsisten
terhadap jajarannya untuk menciptakan clean and
good governance, sehingga visinya
tercapai, yakni �Terciptanya kehidupan masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan
dasar (Basic Needs) bagi seluruh
lapisan masyarakat Kabupaten Lampung Timur, serta memiliki daya saing yang
tinggi di bidang ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi�.
Terakhir baru-baru ini H. Satono,
menerima penghargaan sebagai Pembina Olah Raga Teladan dari Seksi Wartawan
Olahraga (SIWO) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) se-Indonesia yang diserahkan
oleh Ketua PWI Lampung A. Rio Teguh, saat penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SIWO PWI, di
Restoran dan Hotel Bukit Randu, Bandar
Lampung, Sabtu (7/6) lalu.
Penghargaan yang dianugerahkan kepada H. Satono merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan
SIWO PWI Lampung atas dedikasi bupati Lamtim itu mendukung serta memajukan olah
raga di Lampung Timur.
Bagi H. Satono, apapun bentuk
penghargaan yang dianugerahkan padanya, karakternya yang bersahaja tetap
melekat dalam kesehariannya. Baginya penghargaan bukan tujuan, karena apapun
yang dilakukannya adalah murni pengabdian. (Lovea)
H. SATONO, SH., SP.
Tempat
/ Tgl. Lahir :
Pekalongan, 8 Juli 1953
Agama : Islam
Jabatan : Bupati Lampung Timur
Pengalaman
Pekerjaan :
1.
Dinas Perkebunan Lampung Tengah (1972-1982)
2.
Kasubag Kepegawaian Disbun Lampung (1982-1991)
3.
Kabag Tata Usaha Disbun Lampung (1992-1995)
4.
Kasubdin RPP Disbun Lampung (1995-1997)
5.
Kepala Dinas Perkebunan Lampung Utara (1997-2000)
6.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung
Timur (2001-2005)
Pendidikan
Formal :
1. S
I Jurusan Hukum Perdata FH Unila (1981)
2. S
I Pertanian STIPER Surya Dharma (1995)
Diklat
/ Pelatihan :
1.
Penataran Pratun tahun
1991
2.
SEPADYA tahun 1992
3.
Penataran Bela Negara
tahun 1993
4.
Budaya Kerja tahun
1994
Pengalaman
Organisasi :
1.
Pengurus AMPI Lampung
Tengah (1982)
2.
Sekretaris Korpri
Disbun Lampung (1985-1995)
3.
Ketua Umum Korpri
Lampung Timur (2001-
2006)
4.
Ketua Pepadi Provinsi
Lampung (2006 - Sekarang)
5.
Ketua Partai Golkar DPD II Lamtim (2006 - Sekarang)
6.
Ketua PANCASINDO
Pusat (2007 - Sekarang)
7.
Ketua PMPSBQ Provinsi
lampung (2007 -Sekarang)
8.
Ketua Dewan Komisaris
FKDPM (2007 - Sekarang)
Penghargaan
:
- Satya Lencana Karya
Satya XXX tahun 2002 dari Presiden RI
-
Rakyat Lampung Award tahun
2006
-
Leadership Award tahun
2006
-
Tjindarboemi Award tahun
2008
- Penghargaan dari SIWO
PWI tahun 2008
Nama
Isteri :
Rice Megawati
Nama
Anak :
1. Risano Awaludin Wiryawan, SP,
2. Doni Mahesa Praja, SH,
3. dr. Fiki Fernandes