Melinting dari Akar Tradisi Menjadi Ikon Daerah

LAMPUNG TIMUR — Gemuruh budaya dan semangat pelestarian adat mewarnai Festival Melinting 2026 yang digelar di kawasan Wisata Embung Tirta, Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur, Senin (24/8/2026).

Festival Melinting menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bersama masyarakat untuk merawat, menghidupkan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Lampung, khususnya warisan budaya Keratuan Melinting, kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Salah satu atraksi yang menjadi perhatian utama adalah penampilan 1.250 penari Tari Melinting yang melibatkan generasi muda dan pelajar. Penampilan tari secara massal tersebut tidak hanya menghadirkan kemeriahan festival, tetapi juga menjadi simbol kuat bahwa tradisi dan kebudayaan daerah terus hidup serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Ribuan gerak yang ditampilkan para penari menggambarkan semangat, keindahan, dan identitas budaya Melinting. Keterlibatan pelajar juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus ditanamkan sejak dini agar generasi muda mengenal dan memiliki kebanggaan terhadap budaya daerahnya.

Berawal dari Festival Tari Melinting

Perjalanan Festival Melinting memiliki sejarah yang cukup panjang. Cikal bakal kegiatan ini bermula dari Festival Tari Melinting I yang diselenggarakan di Desa Wana, Kecamatan Melinting, pada 8–9 Oktober 2011.

Saat itu, Festival Tari Melinting dibuka oleh Bupati Lampung Timur Erwin Arifin di Lapangan Kecamatan Melinting, Desa Wana. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun ruang bagi masyarakat untuk menampilkan sekaligus melestarikan Tari Melinting sebagai bagian dari identitas budaya Lampung Timur.

Pada 2012, tepatnya 16–18 September, kegiatan berkembang dan berganti nama menjadi Festival Budaya Daerah Melinting II. Tari Melinting tetap menjadi main event, dengan rangkaian kegiatan berupa arak-arakan budaya Melinting serta lomba Tari Melinting tingkat SLTP dan SLTA se-Kabupaten Lampung Timur. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Iwan Nurdaya.

Perjalanan festival berlanjut pada 2013 melalui Festival Tari Kreasi Melinting III yang digelar di Lapangan Bandar Sribhawono. Kegiatan tersebut menghadirkan lomba Tari Kreasi Melinting tingkat SLTP dan SLTA dan dibuka secara resmi oleh Asmara Dewi Erwin Arifin.

Kemudian pada 2014, Festival Budaya Daerah Melinting kembali digelar di Lapangan Bandar Sribhawono dan mendapat perhatian lebih luas dengan kehadiran Gubernur Lampung Sjahroeddin ZP.

Setelah sempat mengalami kendala dokumentasi pada 2015, Festival Melinting kembali diinisiasi pada 2016. Tepatnya 17 April 2016, Festival Melinting VI diselenggarakan di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo dan dibuka langsung oleh Bupati Lampung Timur Chusnunia, didampingi Ratu Melinting dan Puteri Indonesia 2016.

Dari Tradisi Menjadi Agenda Daerah

Perjalanan panjang tersebut kemudian memasuki babak baru ketika Melinting Fest VII diselenggarakan di Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung.

Sejak saat itu, Festival Melinting mulai dikemas secara lebih resmi oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan masuk dalam Calendar of Event Kabupaten Lampung Timur. Festival ini kemudian diarahkan menjadi agenda tahunan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.

Berbagai kekayaan budaya ditampilkan dalam festival, mulai dari tari massal, pertunjukan Muli Mekhanai, seni lintas budaya, hingga pameran kerajinan dan produk UMKM masyarakat lokal.

Festival juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kuliner khas Melinting, salah satunya gulai pengecangan, yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Kehadiran seni lintas budaya, seperti pertunjukan tari Jawa, turut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan beriringan dengan keberagaman. Budaya Melinting tetap menjadi identitas utama, namun terbuka untuk menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lampung Timur yang beragam.

Menjaga Identitas, Menggerakkan Ekonomi

Festival Melinting tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi investasi kebudayaan untuk masa depan.

Keterlibatan pelajar, komunitas seni, masyarakat adat, pelaku UMKM dan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi ruang bersama untuk memperkuat persatuan sekaligus membuka peluang ekonomi.

Dengan dikemas sebagai agenda tahunan, Festival Melinting diharapkan semakin mampu menjadi daya tarik wisata budaya Lampung Timur. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal sejarah Keratuan Melinting, kesenian tradisional, kuliner, kerajinan, serta produk masyarakat setempat.

Melinting pun perlahan bergerak dari sekadar akar tradisi menjadi identitas dan ikon budaya daerah Lampung Timur.

Ke depan, Festival Melinting diharapkan terus dilestarikan dan dikembangkan dengan tetap menjaga nilai-nilai adat dan budaya yang menjadi jati dirinya. Inovasi dalam penyelenggaraan dapat terus dilakukan, namun akar tradisi harus tetap menjadi pijakan utama.

Sebab, ketika budaya dikenalkan kepada generasi muda, ditampilkan di ruang publik, dan diberikan tempat dalam pembangunan daerah, maka warisan leluhur tidak hanya akan dikenang sebagai sejarah, tetapi akan terus hidup dan berkembang di tengah zaman.

Melinting dari akar tradisi, tumbuh menjadi identitas, dan melangkah menjadi ikon budaya Lampung Timur.

(**).